pita deadline

pita deadline

Rabu, 08 November 2017

Teknologi Non Invasive, sebagai Penjaga Gerbang Penyakit Jantung Koroner

Penerapan teknologi non invasif dinilai mampu meringankan hingga 40% biaya terapi penyakit jantung. Manajemen BPJS dan dokter jantung perlu duduk bersama untuk berbicara soal pembiayaan terapi non invasif.


DADA tiba-tiba sakit tak ketulungan, jantung berdegup kencang, keluar keringat dingin. Berbagai pertanyaan pun memenuhi kepala: apakah kena serangan jantung? Atau ada saraf tidak berfungsi? Atau perut yang tidak beres? Atau bagian tubuh lainnya?
Nah, dalam kondisi inilah suatu teknologi non invasif sangat berperan menentukan kondisi awal kesehatan pasien. Seperti namanya, kardiologi non invasif selama ini dikenal sebagai tindakan medis dengan tidak memasukkan suatu benda medis ke dalam tubuh pasien.
Perkembangan kardiologi non invasif inilah yang menjadi salah satu perhatian dr Manoefris Kasim, SpJP(K), SpKN, FIHA, FAsCC, pakar jantung dari Kardiologi Non-Invasif Ekokardiografi dan Treadmill, Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

dr. Manoefris Kasim, SpJP(K), SpKN, FIHA, FAsCC di Lab nya.

Teknologi non invasif saat ini berkembang pesat dengan beragam jenis tujuan tindakan dan manfaatnya. Dari yang memakai pantulan suara (ultrasonik) hingga menggunakan sinar gelombang pendek atau radiasi. Ada juga yang memasukkan zat pembeda tertentu ke dalam tubuh, masih tergolong invasif.
“Teknologi non invasif lebih banyak bersifat diagnostik,” kata Manoefris. Misalnya dengan mengarahkan metoda ultrasonik tadi kepada organ tubuh tertentu seperti jantung atau ginjal, nanti akan diperoleh citra organ tersebut untuk didiagnosa. “Jadi tubuh relatif tidak dilukai oleh pembedahan,” katanya.
Berbagai terobosan teknologi masih terjadi dalam bidang non invasif ini. Salah satu perkembangan misalnya, pakar jantung telah mengembangkan apa yang disebut sebagai magnetocardiography (MCG), sebagai bentuk alternatif dari yang selama ini digunakan, electrocardiography (ECG).
MCG akan mendeteksi gelombang magnetik yang terpancar pada pasien, yang kemudian dapat memetakan kondisi jantung sehingga dapat terdiagnosa. Seperti teknologi non invasif lainnya, MCG dapat dilaksanakan dengan cara memindai jantung pasien.
“Teknologi dengan menggunakan magnet ini memang terbaru yang dikembangkan para ahli. Pada dasarnya itu dikembangkan dari magnetic resonance imaging,” kata Manoefris. Dengan begitu, dokter dapat segera mendiagnosa.
“Jadi pada dasarnya ini adalah teknologi yang mampu melaksanakan prosedur rule out, upaya untuk memisahkan suatu gejala, apakah itu normal atau tidak,” katanya. Oleh sebab itu, MCG lebih banyak digunakan di ruang UGD lebih dulu. Ia dapat digunakan sebagai pemeriksaan pendahuluan. “Ini lebih kepada rule in atau rule out agar lebih gampang untuk terapi lebih lanjut,” katanya.
Sebab itulah, kardiologi non invasif ini cukup penting dari rangkaian penanganan pasien jantung. Menurut Manoefris, syukurlah, penerapan non invasif cukup merata dilaksanakan di lembaga kesehatan Indonesia, dari Pusat maupun di daerah. “Kalau untuk terapi jantung, hampir semua sudah merata. Teknologinya hampir ada di tiap-tiap rumah sakit tipe B. Dari yang teknik ekokardiografi atau ultrasound. Departemen Kesehatan cukup menjamin pengadaannya,” kata Manoefris.
Melihat manfaatnya terhadap pasien, pria kelahiran Batusangkar, 9 September 1949 ini menyatakan peran kardiologi non invasif sangatlah penting dalam manajemen penanganan pasien jantung. “Perannya itu sangat jelas dan penting. Non invasif sangat menentukan penanganan dan nasib pasien itu lebih lanjut,” kata Manoefris.
Contohnya, lanjut Manoefris, tanpa melakukan tindakan pengobatan pun, dokter yang ahli sudah dapat melihat kondisi pasien. Misalnya jika sang pasien tidak mampu berjalan lurus atau pincang, berarti ada yang tidak beres dengan bagian jantungnya. “Jadi kardiologi non invansif ini sangat penting,” katanya lagi.
Betapa tidak, dengan penerapan terapi non invasif yang tepat, biaya perawatan dan pengobatan pasien diramalkan dapat ditekan hingga 40%. “Jadi sebenarnya tidak perlu lagi prosedur cath lab. Karena sebelumnya, dengan terapi non invasif dapat diketahui apakah pasien ini perlu masuk cath lab atau tidak,” katanya.

Proses rehabilitasi pasien jantung.

Kadang-kadang, lanjut Manoefris, kasihan pasiennya, setelah masuk cath lab hasilnya eh.. ternyata jantungnya normal, eh.. ternyata penyempitan jantung hanya sedikit, tidak perlu pembedahan. “Padahal biaya untuk cath lab itu lebih mahal ketimbang tindakan non invasif,” kata Manoefris lagi. Bahkan sebenarnya tahap diagnostik invasif tentu tidak perlu jika kondisi pasien sudah diketahui lebih dulu dengan tindakan non invasif. “Jadi di sinilah letak kardiologi non invasif sebagai gate keeper atau penjaga gerbang bagi prosedur diagnostik invasif,” kata Manoefris.
Hanya saja, kini ada masalah pembiayaan yang perlu mendapat perhatian. “Pesan sponsor kami, pengelola dan manajemen BPJS Kesehatan perlu lebih mendorong lagi prosedur penggantian tindakan non invasif. Baik itu memakai metoda nuklir, kardiologi nuklir, yang menggunakan pemindai radio-isotop, maupun cardiac CT/MSCT,” kata Manoefris.
“Jadi saya kira manajemen BPJS perlu duduk bersama dengan para ahli non invasif untuk membicarakan masalah ini. Ini supaya prosedur invasif baik bedah maupun non bedah dapat diterapkan dengan properly, efektif dan efisien. Ujung-ujungnya, biaya yang dikeluarkan pasien juga tepat sasaran dan tepat guna,” tutur Manoefris. 
[team InaHeartnews]

Etik & Etos Dokter Jantung: Harus Serius Dilaksanakan!

Dokter jantung harus selalu taat pada kode etik dan meningkatkan etos kerjanya. Demi pengabdian kepada kemanusiaan. Ketika terjadi pelanggaran etik, apa yang harus dilakukan?

ETIKA dan etos kerja. Tiap profesi tentu memilikinya. Dengan etik dan etos inilah suatu profesi dapat bertahan dari perubahan jaman. Tak terkecuali juga dokter jantung, profesi yang kerap bersinggungan langsung dengan nyawa manusia.
Sebab itulah, menurut Ketua PERKI Medan, Prof. Dr. Harris Hasan, SpPD, SpJP(K), FIHA, FAsCC, seorang dokter jantung harus selalu memelihara etik dan etos kerjanya. Berikut wawancara InaHeartnews dengan Ketua Departemen Kardiologi dan Kedokteran Vaskular Fakultas Kedokteran USU ini, akhir September.

Kira-kira kode etik apa yang paling krusial harus selalu ditaati dan dilaksanakan dokter jantung?
Saya pikir kode etik ini harus dilaksanakan secara sempurna. Kode etik itu kan menyangkut banyak aspek. Pertama-tama aspek pasien, kita harus mengutamakan kepentingan pasien. Kita harus jelaskan secara utuh mengenai penyakitnya, tindakan yang akan kita kerjakan, resiko yang kemungkinan akan timbul, semuanya harus jelas. Jadi harus ada keluarga pasien dan harus pasien yang memutuskan. Tentu mungkin dengan informasi yang lengkap dari kita.
Setelah itu ada aspek terus kesejawatan. Jadi bersama teman-teman sejawat harus terjalin komunikasi yang harmonis. Ada juga aspek tata kelola konsul. Maksudnya kalau kita melibatkan multidisiplin yang lain dalam menangani suatu kasus, kita harus melibatkan konsultan yang lain. Sehingga inikan bermanfaat untuk pasien dan dokter juga.

Perkembangan teknologi kedokteran semakin cepat, begitu juga dengan perkembangan sosiologi masyarakat. Mereka makin kritis dan menuntut pelayanan yang optimum. Bagaimana mengatasi kondisi ini Prof?
Tentu sebagai seorang dokter jantung, harus melengkapi diri dengan pengetahuan yang sesuai dengan kurikulum, dengan kurikulum profesi yang ada atau kurikulum dokter SKDI. Iya kan? Jadi itu dokter SKDI untuk profesi SpJP misalnya mulai dari kolegium, ya tentu basic-nya ya harus kita kuasai. Mulai dari anamnesis pasien, pemeriksaan fisik, itu harus mantab dan berkualitas. Begitu juga dengan pemeriksaan tambahan, misalnya EKG, radiologi, ekokardiografi, termasuk pemeriksaan invasif, diagnosis invasif dan sebagainya.
Kalau sang dokter spesialis atau SpJP, tentu dia harus melaksanakan modul-modul kurikulum yang telah ditetapkan kolegium, sehingga dia mendapatkan pengetahuan yang cukup sebelum terjun praktek ke lapangan.
Di samping itu ya menambah ilmu diri dengan pendidikan kedokteran berkelanjutan, dengan seminar-seminar, dengan kongres-kongres, dan sebagainya.
Semua itu diperlukan supaya dokter jantung dapat dan mampu menghadapi tantangan jaman. Karena pasien sekarang ini kan lebih mengerti, lebih komplek, ya kan? Lebih pintar-pintar dengan melihat dari internet, ya kan? Sehingga kalau kita tidak mengikuti perkembangan itu, kita nanti jadi repot.
Nah…. tetapi sebaliknya kita juga harus menyadari keterbatasan-keterbatasan. Maksudnya pasien inikan sekarang datang dengan berbagai macam keadaan. Macam penyakit yang datang bukan hanya penyakit jantung saja, kadang-kadang disertai dengan ada myocardial hibernation-nya, ada gejala gulanya, ada neurologinya, ada kelainan darahnya. Tentu kita harus menyadari dan melibatkan konsultan yang lain, agar pasien ini menjadi lebih baik.

Apa dampaknya terhadap etika dan etos kerja dokter jantung ini Prof?
Sebenarnya seperti saya bilang tadi, spesialis jantung ini profesi yang sibuk dan sering mendapatkan pasien-pasien yang kedaruratan yang mengancam jiwa. Jadi kita harus siapakan diri kita, keilmuwan kita, untuk menghadapi hal-hal tersebut dengan serius dan komunikasi dengan pasien dengan keluargannya. 
Jadi jangan ada salah tafsir nanti. Kita sudah lakukan begini tahu-tahu keluarga pasien tidak terima. Putusan yang akan diambil harus dijelaskan pada pasien ataupun keluarganya, supaya jangan ada komplain di belakang hari.
Nah itulah jadi dalam melaksanakan profesi itu harus serius… sangat serius dan fokus dalam menyelesaikan masalah. Kepentingan pasien kedaruratan itulah yang pertama, jangan yang lain-lain dulu. Untuk melaksanakan ini, tubuh dan pikiran kita juga harus prima. Jaga kesehatan kita, jaga harmonisasi keluarga, begitu juga etik dengan kesejawatan harus dipelihara baik.
Karena di era yang akan datang inikan era persaingan, era MEA (Masyarakat Ekonomi ASEAN). Orang-orang asing akan masuk di tempat kita. Jadi kalau kita ndak mempersiapkan diri, maka akan jadi tamu di negara kita sendiri. Itulah saya rasa, etos kerja harus dijaga, inilah semangat dan memberi dorongan juga kepada staf agar bisa lebih baik.

Salah satu rekomendasi dari Asmiha adalah tekad untuk mempersempit jurang layanan kesehatan di pusat dan daerah. Bagaimana dampaknya pada etik dan etos kerja dokter jantung?
Makanya distribusi dokter jantung itu harus merata, kalau tidak kasihan masyarakat apalagi yang tinggal di kabupaten atau daerah. Mereka kerap tidak mendapat pelayanan optimal, jadi kita harus berpikir bahwa distribusi dan penempatan SpJP tentu harus mempertimbangkan daerah-daerah juga, tidak boleh berkumpul di kota-kota besar semua. Kasihan masyarakat kan masih banyak lagi masyarakat yang memerlukan pertolongan dari kita.

Bagaimana untuk mengatasi hal ini?
Jadi pada intinya untuk mengurangi gap itu, tentu daerah harus mengupgrade dirinya sendiri terutama untuk dokter-dokter spesialisnya. Sementara di pusat harus selalu mendistribusikan tenaga dan keahliannya ke daerah-daerah. Nah, pengurus PERKI Cabang harus memikirkan hal ini. Dalam penerimaan peserta program itu harus diperhatikan. Harus diberitahu bahwa kalau studinya selesai jangan hanya mau tinggal di kota saja. Harus mengabdi. Jaman kami dulu kan mengabdi di puskesmas-puskesmas di seluruh Indonesia.

Bagaimana pendapat Prof terhadap kasus gratifikasi kepada dokter jantung?
Masalah itu aturannya sudah jelas, kita mengikuti aturan saja, mengikuti aturan yang diatur oleh IDI, diatur oleh profesi ya kan. Jadi sudah ada landasan hukumnya. Tapi tentu saja dengan tetap memperhatikan dan membina arah kerja sama yang baik. Jadi jangan malah sedikit-sedikit takut melanggar etika.
Misalnya, untuk peningkatan ilmu dokter, dengan mengadakan berbagai simposium dan pertemuan ilmiah kan harus melibatkan pihak ketiga, profesi di luar kedokteran. Begitu juga kita harus menghadapi perkembangan teknologi dari luar dunia kedokteran. Jadi mereka itu tidak boleh kita jadikan saingan, harus kita rangkul. Sebab itu, kita harus tahu peraturan-peraturan dan protokol-protokol yang telah diatur IDI. Jadi jangan terjerumus pula sehingga berurusan dengan polisi atau KPK dan lainnya.

Bagaimana penanganan yang tepat terhadap dokter jantung yang melanggar etika?
Yang melanggar etik tentu akan diserahkan sesuai peraturan dan ketentuan yang berlaku. Jadi itukan ada organisasi profesinya, ada IDI, ada PERKI. Mereka itulah badan hukumnya. Di sana juga ada kewajiban untuk mendampingi atau mengadakan pembelaan jika dianggap perlu. Jadi kita serahkan sama mereka.

Bagaimana dengan kejadian malpraktek?
Sebenarnya, kalau kita melaksanakan sesuai dengan aturan kode etik dan etos, maka kejadian malpraktek dapat dicegah. Misalnya, sejak awal kita harus menginformasikan kepada pasien, tindakan yang akan kita lakukan, kemudian bagaimana resikonya, angka kematiannya, sehingga pasien dapat mengambil gambaran. Dokter itu hanya manusia, yang menyembuhkan itu Tuhan.*

Kardiologi Kuantum no.39; Kardiologi Kuantum: Menembus Kedalaman Hati

(Quantum Cardiology: Heart and Beyond)

“Getaran ekstase perasaan yang terjadi karena pergumulan antara ilmu-ilmu kardiologi-fisika kuantum-Candra Jiwa Indonesia (Soenarto), telah melahirkan tulisan-tulisan kardiologi kuantum yang bersifat semi ilmiah, filsafat terapan dan humaniora. Harapannya terjadi perubahan perilaku dan kelak dapat dibuktikan dengan penelitian-penelitian ilmiah berdasarkan metodologi dan induksi statistik tertentu, semoga dunia kita-semua tersenyum.” 
[Quantum Cardiology (Heart and Beyond); Ekst. BSP #39: 2012-2017]


TULISAN pertama kali tentang kardiologi kuantum berupa kolom berkelanjutan terbitnya Tabloid Profesi Kardiovaskuler (ISSN: 0853-8344) pada bulan Januari 2012 di halaman ke-2. Terbitan ini merupakan volume ke XVII dan bernomor 179. Kolom kuantum selalu dimulai dengan Salam Kardio dan diakhiri dengan Salam Kuantum, begitulah kebiasaan penulisnya.
Albert Einstein yang mengaku sudah memikirkan ratusan kali tentang masalah kuantum masih tetap bersikukuh bahwa teori kuantum dimasukkan dalam teori relativitas umum, bukan teori relativitas khusus. Pernyataannya: “I cannot seriously believe in [quantum theory] because.. physics should represent a reality in time and space, free from spooky actions at a distance.”
Nah, ingatkah kita pada tarian pencak Minangkabau yang nan dinamis, diiringi musik pentatonik dengan cerita legenda yang bertutur bahasa yang tinggi seperti pada cerita Sabai nan Aluih. Kesenian Randai dalam adat Minang dalam filsafatnya sebenarnya juga membenturkan “budi dengan ilmu” (budi manimpo ilmu). Seperti karakter “Ming” dalam bahasa Mandarin, gabungan karakter matahari dan bulan (empat coretan), dapat diartikan sebagai pencerahan.
Seorang peneliti seyogyanya melakukan lompatan kuantum ke depan seperti yang telah dilakukan Albert Einstein. Teori relativitasnya E=MC2 diperkirakan melompat 100 tahun ke depan dari zamannya. Einstein menjelaskan makna relativitas itu bagaikan sudah duduk 2 jam di dekat wanita cantik tetapi terasa baru 2 menit, sementara duduk di perapian panas selama 2 menit, sudah terasa 2 jam.
Menurut teori pemikiran Erwin Schrödinger keseluruhan sistem mekanika kuantum dapat dideskripsikan dengan fungsi gelombang dan ini membuka dasar kesatuan dari alam semesta.
Niels Bohr penyandang hadiah Nobel pun puyeng tentang fisika kuantum, katanya: “If anybody says he can think about quantum physics without getting giddy, that only shows he has not understood the first thing about them.” Alih-alih puyeng, Erwin Schrödinger (1887-1961), juga penyandang hadiah nobel, misteri dunia kuantum ia gambarkan dalam kisah ”Kucing Schrödinger” (1935) yang legendaris itu.

Kucing Schrödinger dengan peralatan untuk membuat teka-teki superposisi elemen kuantum.

Erwin salah satu Bapak Fisika Kuantum, pertama kali mengisahkan soal kucing itu sebagai upaya ‘eksperimen khayalan’ untuk menjelaskan dunia kuantum yang absurd. Dalam ‘eksperimen’ itu, seekor kucing diletakkan di sebuah kotak tertutup bersama sebuah botol berisi racun sianida. Racun sianida itu akan terlepas dan membunuh kucing tersebut apabila terkena tembakan partikel dari sebuah unsur radioaktif yang sedang meluruh. Peluruhan radioaktif itu diatur oleh hukum fisika kuantum yang hanya berisi probabilitas antara meluruh dan tidak meluruh atau disebut dengan kondisi ”superposisi”. Dengan sendirinya, kucing itu pun dalam kondisi superposisi, yakni mengalami keadaan hidup dan mati dalam waktu bersamaan.
Masalahnya, kondisi superposisi ini sangat sensitif terhadap lingkungan luar sehingga setiap usaha mengamati atau mengukur dengan pasti kondisi kucing tersebut akan merusak keadaan kuantumnya. Dengan demikian, saat ada orang yang membuka paksa kotak itu, dia hanya akan menemukan salah satu dari dua kemungkinan kondisi kucing: hidup atau mati. Itulah kesulitan yang dihadapi para penggelut fisika kuantum.
Selama puluhan tahun sejak ilmu ini ditemukan, teori-teori fisika kuantum telah terbukti benar dalam memprediksi berbagai gejala yang ditimbulkan dan bisa diamati di tingkat makro. Namun, mengamati partikel kuantum tunggal, apalagi kemudian mengendalikan perilakunya, adalah sesuatu yang selama ini dianggap mustahil.
Beruntung, masih di tahun 2012 masyarakat telah membaca berita bahwa ahli kuantum Serge Haroche dari Perancis dan David Wineland dari Amerika Serikat secara terpisah menemukan metode untuk mengisolasi partikel-partikel itu, yang memungkinkan seseorang mengamati, menghitung dan bahkan memanipulasi partikel-partikel tersebut.
Mereka telah berhasil ”menangkap” Kucing Schrödinger tanpa merusak kondisi kuantumnya! kotak logam yang berisi kucing Schrödinger telah dibuka dengan dua metode yang berbeda. Wineland menggunakan tembakan foton sinar laser untuk memperlambat dan mengendalikan atom-atom bermuatan listrik atau ion atom Berrylium.
Sementara Haroche sebaliknya, ia mengendalikan dan mengukur foton-foton alias partikel cahaya yang dijebak di antara dua cermin khusus dengan menembakkan atom-atom Rydberg. Penemuan mereka diyakini akan memungkinkan pembuatan sebuah komputer kuantum, yakni komputer berkecepatan sangat tinggi yang bekerja berdasarkan mekanisme fisika kuantum.

Kardiomiopati Reversibel Takotsubo
Dr. Arief Fadhilah Jumat pagi, 30 Maret 2012 mempresentasikan kasus sindroma Takotsubo untuk pertama kalinya di depan Konferensi Dep. Kardiologi dan Kedokteran Vaskular FKUI. Sangat mungkin juga baru pertama kali kasus ini diungkapkan di Indonesia. Takotsubo adalah jebakan gurita (octopus) yang sampai kini masih dipakai oleh nelayan Jepang. Pertamakali dilaporkan dari Jepang oleh Satoh dan Dote pada tahun 1900 yang mengemukakan bentuk ventrikel kiri pada fase sistolik tersebut mirip dengan bentuk jebakan oktopus.

Gambar A, adalah left-ventriculography pasien dengan sindroma takotsubo, suatu kumpulan gejala akibat stres-neurogenik; Gambar B adalah takotsubo, semacam guci yang dipakai nelayan Jepang untuk menangkap gurita.

Kardiomiopati yang reversibel akibat stres dikenal juga sebagai Takotsubo. “Stres berat bagaikan ‘gelombang-badai simpatis’ meskipun bersifat sementara, dapat mengakibatkan kardiomiopati Takotsubo suatu kelainan anatomik apeks jantung pada fase sistolik yang menyerupai balon” —adalah perkiraan Kardiologi Kuantum, pemerhati masalah filsafat terapan dalam bidang kardiovaskular.
Presentasi kasus Arief Fadhilah menjadi lebih seru ketika LV apical balooning tersebut ternyata membentuk elevasi segmen ST yang menyerupai infark miokard akut. Inipun telah dilaporkan oleh Bybeka KA, dkk dalam jurnal Annals of Internal Medicine 2004. Kardiomiopati Takotsubo disebut juga apical ballooning syndrome, kardiomiopati terinduksi stress, sindroma patah hati adalah suatu sindrom yang umumnya ditandai dengan disfungsi sistolik dari segmen apikal miokard dan atau mid ventrikel kiri, yang bersifat sementara, yang menyerupai infark miokard, tetapi tanpa adanya penyakit jantung koroner yang signifikan.1-8 Kardiomiopati Takotsubo pertama kali dikemukakan di Jepang. Kardiomiopati tipe ini kemudian dilaporkan pada populasi non-Asia, termasuk Amerika Serikat dan Eropa.2, 4, 5, 9
Istilah patah-hati lebih lazim dipakai sebagai terjemahan dari broken-heart dari pada patah-jantung. Patah hati yang menyebabkan ‘badai simpatis’ tentu saja meningkatkan debaran jantung dalam waktu yang lama cukup untuk membentuk kelainan bilik kiri yang terdiri dari outflow track yang menyempit ditemani apeks yang menggelembung, seperti tempayan kecil.

Kardiologi kuantum & Chandra Jiwa
Awalnya, ada 3 peneliti di bidang ilmu jiwa di dunia Freud, Adler dan Jung. Sebelumnya orang lebih tertarik dengan ilmu perbintangan (astronomi), matematika, fisika, kimia, kedokteran fisik, terakhir barulah orang tertarik dengan ilmu jiwa, psikologi, psikiatri. Freud yang memang tidak percaya kepada Tuhan, candra jiwanya sederhana: Ego, Superego dan Nafsu: Seks (eros) dan Mati (tanos). Karena sederhana dan berorientasi di dalam diri manusia inilah justru yang diajarkan di fakultas-fakultas kedokteran di Indonesia.
Ketiga peneliti jiwa tahap awal tersebut berikutnya, belum diajarkan di fakultas kedokteran. Adler orientasinya adalah masyarakat, jadi mau tidak mau orang harus mengikuti aturan-aturan, nilai-nilai di masyarakat agar sehat jiwanya. Nilai-nilai tersebut tidak menjadi masalah ketika diberikan oleh para Nabi kepada masyarakat, walaupun beliau juga belum percaya kepada Tuhan. Daya dorong motivasi manusia diletakkan pada "rasa rendah diri" dalam pandangannya orang bisa lebih tertarik ilmu kemasyarakatan seperti politik dibanding seks.
Jung justru percaya kepada Tuhan (Das Selbst) pertemuannya dengan ego manusia menjadi intuisi, dan leburnya ego manusia ke Das Selbst disebut sebagai Individuation sebagai akhir dari evolusi jiwa manusia. Nabi adalah manusia juga yang dapat mengeksiskan Das Selbstnya. Tentu saja tidak harus demikian, ini disebut sebagai hipotesis saja karena Jung belum pernah bertemu dengan seorang Nabipun.
Prof Soemantri mengikuti hipotesis Jung, hanya beliau bertemu dengan R. Soenarto Mertowardojo, bukan Nabi dan tidak menyebarkan agama baru. R. Soenarto Mertowardojo dan dua sahabatnya menulis pustaka intuisi Sasangka Jati. Tulisan tersebut berdasarkan sabda Sang Guru Sejati dari pusat hatinya dan dicatat oleh dua orang sahabatnya: R.T. Hardjoprakosa dan R. Trihardono Soemodihardjo. Sabda tersebut melebihi dari intuisi yang diperkirakan oleh Jung karena mengalir menjadi sebuah pustaka yang terdiri dari tujuh buku. Terjadinya Alam Semesta adalah salah satu dari buku tersebut yang dipakai sebagai intisari dari disertasi Dr. Soemantri di Universitas Leiden Negeri Belanda, dipromotori oleh Prof. Dr. E.A.D.E. Carp pada tanggal 20 Juni 1956.
Judul disertasinya adalah Indonesisch Mensbeeld als basis ener psicho-therapie (Candra Jiwa Indonesia sebagai Dasar Psikoterapi). Kembalinya Roh Suci (TheSelf) ke Suksma Sejati (TheForce) atas nama Suksma Kawekas (TheSource) adalah akhir dari evolusi jiwa-idealnya manusia disebut sebagai peristiwa Pamudaran/Panunggal.


Perbandingan 4-Candra Jiwa yang Semuanya Dilahirkan di Eropa.
Posisi sang-Aku (Ego) sebagai sentra pembanding utamanya. Menjadi jelas bahwa Candra Jiwa Indonesia berdiri sejajar dengan lainnya dan tampak lebih lengkap strukturnya. Das ES di dalam Candra Jiwa Freud disebut juga sebagai ID. Freud tidak percaya adanya Tuhan, Adler tidak membicarakan Tuhan maupun struktur jiwa, jadi keduanya tidak memiliki “Yang di Atas”, suprastruktur. Suprastruktur adalah bagian transendennya (kalbu-hati) manusia.

Kardiologi kuantum meminjam istilah yang sudah dikenal masyarakat melalui film-film legendaris tersebut untuk memperkenalkan Candra Jiwa Indonesia terutama bagian Tripurusa (TriAspect), bagian tertinggi, atau bagian terdalam dari jati dirinya seorang manusia. Suksma Kawekas (TheSource) adalah hierarkhi tertinggi, ia adalah sadar kolektif statis, asal mula dan sumber serta tujuan hidupnya manusia (ego). Ialah yang menguasai alam semesta dan seisinya. Semua kekuasaan adalah kekuasaan-Nya didelegasikan sepenuhnya kepada utusan-Nya Yang Abadi ialah Suksma Sejati (TheForce). TheForce adalah istilah lain dari Suksma Sejati yang menjadi pemimpin, penuntun dan gurunya manusia (TheSelf).
Dalam perjalanan sang waktu, Aku (Ego) yang materi yang berada di dalam mental (jiwa)-nya/jasmani halusnya manusia akan menjalankan evolusi sepanjang perjalanan hidupnya. Modalnya adalah menyerahkan kedaulatannya kepada Tripurusa, untuk ini diperlukan upaya introversi: sadar, percaya, taat dalam arti seluas-luasnya. Tentu saja hanya sampai pada TheGate (Rahsa Jati) karena ia masih bersifat materi, eksistensinya diganti oleh Roh Suci, Egonya yang imateri.
Manusia tidak mungkin memiliki Trisila sebagai “kunci dalam” secara sempurna sekiranya dalam penampilannya di dalam masyarakat tidak menjalankan tatacara hidupnya dengan Pancasila: sabar, rila, narima, jujur, budi luhur, diyakini sebagai “kunci luar” kehidupan. Dengan menguasai ilmu dan menjalankan Hastasila (hasta= delapan) tersebut bila diizinkan Suksma Sejatinya, terbuka kesempatan untuk mendapatkan intuisi (ilham) yaitu suatu pencerahan, suatu keajaiban yang dapat mengubah peradaban diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.
Pengendalian diri yang diarahkan kepada fungsinya yang tertinggi dari motivator-motivator ini adalah taat (obidience, takwa) kepada-Nya. Saling pengaruh-memengaruhi antara angan-angan dan nafsu-nafsu tersebut timbulah fungsi-perasaan, sebagai sentra-vitalitas yang baru, nonekstrinsik ialah ekstase suasana rasa-perasaan manusia yang berfungsi sebagai indikator. Ego-jasmani merupakan kristalisasi dari fungsi angan-angan manusia sedangkan strukturnya berasal dari ciptanya manusia. Ego-jasmani merupakan bayangan, refleksi dari Ego-rohani (Roh Suci) manusia ialah jatidirinya yang hakiki. Roh Suci (TheSelf) inilah yang dihidupi dan dituntun oleh Suksma Sejati (TheForce) atas nama sumber, asalmula, dan tujuan hidup manusia ialah Suksma Kawekas (TheSource).
Akhir dari perjalanan evolusi Egonya manusia adalah peristiwa Pamudaran dan Panunggal yang sesungguhnya adalah satu peristiwa yang sama. Pudarnya “bungkus” Roh Suci yaitu jiwanya manusia yaitu angan-angan perasaan dan nafsunya, dan ditariknya Sinar Roh Suci tersebut kembali ke Suksma Sejati atas nama Suksma Kawekas. Dalam jiwa manusia sudah tidak ada polaritas, sudah tidak ada gerakan dan tidak eksis lagi. Tugasnya sebagai manusia telah selesai, bagaikan mati di dalam hidup, dapat dibayangkan sebagai suatu peristiwa metamorfosis; Ia masih bisa melakukan kegiatan rutin, hanya saja semua dalam eksistensi Suksma Sejati. Manusia telah selesai melaksanakan tugas evolusi jiwanya dengan sempurna.8

Kesimpulan. Salam Kardio. Getaran ekstase perasaan yang terjadi karena pergumulan intensif antara ilmu-ilmu kardiologi, fisika kuantum dan Candra Jiwa Indonesia (Soenarto) seperti yang telah disampaikan dalam artikel tersebut di atas, telah melahirkan tulisan-tulisan tentang kardiologi kuantum yang bersifat semi ilmiah, filsafat terapan dan humaniora (2012-2017). Harapannya terjadi perubahan perilaku di dalam diri sendiri serta masyarakat sekelilingnya, dan kelak dapat dibuktikan dengan penelitian-penelitian ilmiah berdasarkan metodologi dan induksi statistik tertentu. Semoga dunia kita menjadi semakin tersenyum gembira, gairah dan bersemangat kebersamaan. “May TheForce be with us.”

*) Artikel Kardiologi Kuantum (Menembus Kedalaman Hati) ini disiapkan untuk 29th WECOC bringing forth “Contemporary Heart Failure Management: from Dream to Reality”, 6 Oktober 2017.


Daftar Pustaka

1. Bybee KA, Kara T, Prasad A, Lerman A, Barsness GW, Wright RS, et al. Systematic review: transient left ventricular apical ballooning: a syndrome that mimics ST-segment elevation myocardial infarction. Ann Intern Med. 2004 Dec 7; 141 (11): 858-65.
2. Tsuchihashi K, Ueshima K, Uchida T, Oh-mura N, Kimura K, Owa M, et al. Transient left ventricular apical ballooning without coronary artery stenosis: a novel heart syndrome mimicking acute myocardial infarction. Angina Pectoris-Myocardial Infarction Investigations in Japan. J Am Coll Cardiol. 2001 Jul; 38 (1): 11-8.
3. Abe Y, Kondo M, Matsuoka R, Araki M, Dohyama K, Tanio H. Assessment of clinical features in transient left ventricular apical ballooning. J Am Coll Cardiol. 2003 Mar 5; 41 (5): 737-42.
4. Desmet WJ, Adriaenssens BF, Dens JA. Apical ballooning of the left ventricle: first series in white patients. Heart. 2003 Sep; 89 (9): 1027-31.
5. Sharkey SW, Lesser JR, Zenovich AG, Maron MS, Lindberg J, Longe TF, et al. Acute and reversible cardiomyopathy provoked by stress in women from the United States. Circulation. 2005 Feb 1; 111 (4): 472-9.
6. Dec GW. Recognition of the apical ballooning syndrome in the United States. Circulation. 2005 Feb 1; 111 (4): 388-90.
7. Bybee KA, Prasad A, Barsness GW, Lerman A, Jaffe AS, Murphy JG, et al. Clinical characteristics and thrombolysis in myocardial infarction frame counts in with transient left ventricular apical ballooning syndrome. Am J Cardiol. 2004 Aug 1; 94 (3): 343-6.
8. Budhi S. Purwowiyoto. Kardiologi Kuantum (18): TheForce. Tabloid Profesi Kardiovaskuler (ISSN: 0853-8344). 2013 Mei; 195 (XIX): 3, 6.